Hadiah Kebahagiaan

Lain dari biasanya aku menelepon rumah di pagi hari. Saat itu, tepatnya hari Jumat, tanggal 11 April, (berarti dua hari yang lalu). Jarum jam menunjukkan pukul 08.05 waktu Jepang (ada perbedaan waktu dua jam lebih cepat dengan waktu di Jogja). Siwi, istriku sedang sibuk-sibuknya menyiapkan kebutuhan sekolah Riri (8 tahun) dan Dani (6 tahun), termasuk kebutuhan dirinya sendiri.

Pagi itu aku secara khusus menelepon Siwi untuk mengucapkan Selamat Ulang Tahun Pernikahan kami yang ke-9. Pikirku pagi-pagi adalah saat yang tepat untuk mengucapkannya. Rencana sebenarnya lebih pagi lagi, saat istriku masih tidur, sekitar jam 06.30, karena pas pada jam itu biasanya istriku bangun. Jadi aku tak mengganggu jam istirahatnya. Halah, berlagak jadi suami yang baik. Barangkali itu yang ada dipikiran pembaca. Jujur, saya tidak berlagak. Karena jelas saya bukan suami yang baik. Sering saya membuat marah dan sedih istriku. Sangat egois, mau menang sendiri. Kurang pengertian. Tapi setidaknya saya telah berusaha.

Seperti kali ini, saya berusaha tidak mengganggu istirahat istriku. Tapi biasalah kalau tidak ada yang membangunkan, aku termasuk susah untuk bangun pagi. Jam weker di kamar sekedar jadi pajangan saja, karena berkali-kali berdering tetap tak mampu membangunanku.

Tuh, betul kan saya bukan suami yang baik. Sudah janji pada diri sendiri untuk telepon pagi hari saja tidak ditepati, apalagi sama orang lain. Tetapi setidaknya tanpa berusaha saya telah berhasil tidak mengganggu tidur istriku.

Meski agak terlambat, (dari pada tidak, ya kan?) saya menelepon istriku. Kuucapkan Selamat Ulang Tahun Pernikahan. Tak lupa kuucapkan juga terima kasih karena telah menjadi istri dan ibu yang baik untuk anak-anakku.

Ya, adegan selanjutnya tak perlulah diceritakan di sini karena mungkin tidak menarik. Paling cuma pembicaraan biasa antara suami-istri yang lagi telepon. Mungkin sedikit menarik dan berbeda karena saat ini kami dipisahkan oleh jarak dan waktu, sehingga ada suasana lain yang baru pertama kali kami alami. Ya, ini adalah ulang tahun perkawinan kami yang ke sembilan, sekaligus yang pertama bagi kami untuk tidak melewatkan waktu bersama. Jadi tidak ada istilah jalan-jalan berdua, atau sekedar makan bareng berdua, dilanjutkan ngobrol di tempat tidur sampai pagi (tentunya dengan aktifitas…,ups! Nanti blogku dilarang sama Menkominfo kalau diteruskan).

Agar tidak melenceng alur ceritanya, aku ajak pembaca (yakin amat ada pembacanya) kembali ke saat aku telepon ke rumah. Ya, belum selesai aku ngobrol lewat telepon dengan Siwi, di belakang istriku (atau mungkin di samping, ya?) terdengar suara ribut Riri dan Dani.

” Aku dulu! Aku dulu!,” teriak mereka bersahutan.

Rupanya mereka sedang sarapan. Dan, sedari tadi memperhatikan ibunya yang sedang telepon. Mereka sudah tak sabar lagi untuk menunggu giliran berbicara dengan bapaknya.

“Sudah dulu ya, gantian anak-anak,” kata istriku.

“Pak, selamat ulang tahun pernikahan yang kesembilan, ya,” ucap Riri.

“Selamat ulang tahun pernikahan ya, Pak,” sambung Dani.

Wow, rupanya mereka begitu antusias juga dengan moment ini. Bahkan kata Siwi mereka juga sudah tahu kalau bapak dan ibunya akan ulang tahun pernikahan yang kesembilan. Ah, pasti istriku yang memberi tahu.

“iya, mereka semangat banget mau kasih hadiah segala,” kata Siwi kemudian.

“Adik yang kasih tahu, ya?”tanyaku pada Siwi.

“Nggak. Cuma waktu itu aku buka album foto-foto pernikahan. Anak-anak juga ikut, terus Riri baca undangan pernikahan kita dulu. Dia jadi tahu kalau tanggal 11 April 1999 pernikahan bapak dan ibunya,” jelas istriku.

“Wow,” sahutku. Terbersit rasa bangga dan bahagia juga mendengar penjelasan Siwi.

“Sejak semalam sebenarnya mereka sudah nunggu telepon bapaknya,” sambung Siwi lagi.

Wow, lagi-lagi wow. Ini adalah pertama kalinya aku mendapat ucapan selamat dari anak-anakku di hari ulang tahun pernikahan. Kalau ucapan selamat ulang tahun kelahiran sudah biasa aku mendapat dari mereka setiap tahun. Ini ulang tahun pernikahan, broo. Aku tak menyangka. Meski tidak diajari mereka perhatian juga sama bapak dan ibunya. Sungguh ini hadiah ulang tahun pernikahan kesembilan yang spesial. Yang lebih berharga daripada hadiah arloji atau sepatu atau dasi. Bahkan masih jauh lebih berharga dibanding jalan-jalan ke Bali atau Lombok. Aku tidak mau membandingkan dengan rumah atau mobil, karena aku belum punya, jadi kalau ada yang mau kasih hadiah dua benda itu aku akan menerima dengan ikhlas, mengatakan terima kasih dan juga mengucap ini hadiah spesial juga (he..he..he… emang siapa yang mau kasih?).

Tetapi kalau disuruh memilih, katanya hidup khan harus memilih, jujur aku akan mengatakan kalau “hadiah” dari anak-anak tadi nilainya melebih segalanya. Adakah hadiah bagi seorang suami-istri yang jauh lebih bernilai dibanding kebahagiaan? Bukankah salah satu tujuan orang berumah tangga adalah kebahagiaan? Atau mungkin ada juga orang yang berumah tangga dengan tujuan supaya memiliki rumah bagus atau mobil mewah. Ah, biarlah itu kan pilihan masing-masing. Tetapi bagiku dan pasti bagi mayoritas orang berumah tangga tujuan pernikahan adalah kebahagiaan.

Dan hadiah kebahagiaan itulah yang diberikan anak-anakku untuk Hari Ulang Tahun Pernikahan kami yang kesembilan. Sekali lagi, terima kasih anak-anakku, sayang.

Catatan:

Yeach, akhirnya jadi juga aku menulis cerita ini. Kesibukan tesis membuatku tak ada waktu untuk nge-blog-ria.

One Response to “Hadiah Kebahagiaan”

  1. harmastfi Says:

    Selamat.. selamat ya Mas…. ini bisa jadi semangat tuk maju lagi… ups… ga pake nabrak ya….he he he… Tahun depan kan bisa barengan lagi….

Leave a Reply